skip to main |
skip to sidebar
Menjaga Langit Demokrasi
BUKU besar sejarah manusia telah mencatat peranan kaum intelektual dalam tumbuh kembangnya suatu bangsa. Di seantero dunia, kita dapat mengingat modernisasi di India yang dipelopori cendekiawan Mahatma Gandhi, perjuangan kemerdekaan Filipina terhadap Amerika Serikat yang dimotori oleh Jose Rizal, dan tak lupa pula revolusi China dari masa dinasti ke era republik oleh Dr Sun Yat Sen.
Tak ketinggalan kaum terpelajar di Indonesia prakemerdekaan. Berdirinya organisasi pergerakan baik dalam atau luar negeri, media-media cetak pengembus angin nasionalisme, dan Sumpah Pemuda menjadi bukti eksistensi mereka. Pemuda sebagai elemen dalam masyarakat yang dianugerahi gelar agent of change memiliki tanggung jawab terbesar terhadap kemajuan bangsa.
Tumbuh kembang dan hancurnya suatu bangsa ditentukan oleh golongan muda di dalamnya. Dewasa ini peranan pemuda dimanifestasikan dalam sosok mahasiswa yang mampu melakukan pergerakan dan revolusi. Sejarah menyaksikan peranan mahasiswa di pasca-Gerakan 30 September 1965. Mereka melihat kebobrokan pemerintah yang tidak mampu menyejahterakan rakyat meski telah 20 tahun merdeka.
Hati mereka tergugah, dan bermuara pada lahirnya Tritura atau tiga tuntutan rakyat. Momen ini kembali terulang. Mahasiswa serentak turun ke jalan ketika krisis moneter mengguncang sendi-sendi perekonomian masa Orde Baru yang terlihat kokoh di luar, ternyata amat rapuh di belakang. Mereka menuntut diadakannya reformasi menyeluruh.
Pemerintahan pimpinan mantan Presiden Soeharto dinilai otoriter, tidak transparan, dan korup. Sebagai mulut suara hati rakyat, mahasiswa berhasil menumbangkan rezim Soeharto dan menancapkan tonggak pemerintahan yang lebih demokratis. Kini di kala iklim demokrasi mulai menaungi Indonesia, bukan berarti tugas mahasiswa berakhir.
Malah di sinilah peranan mahasiswa sangat diperlukan dalam mengawal berjalannya praktik berdemokrasi yang ideal. Jika kita asosiasikan, peranan mahasiswa layaknya elang penjaga langit demokrasi. Mampu terbang tinggi di angkasa namun tetap menatap tajam ke bumi. Tak ada yang luput dari mata elang yang tajam, bahkan sewaktu-waktu ia dapat menukik cepat dan tepat sasaran.
Seperti itu pula mahasiswa di era reformasi ini. Keadaan di mana pemerintahan telah ditata dengan perangkat hukum yang demokratis, mahasiswa harus berada di garda terdepan dalam fungsinya sebagai kontrol sosial. Terbang tinggi ke angkasa, jauh dari dunia pemerintahan.
Karena Soe Hok Gie pun mencatat dalam buku hariannya, seorang aktivis mahasiswa yang serta-merta dimasukkan dalam kekuasaan, idealismenya akan luntur dan tak beda adanya dengan para pemegang kekuasaan. Sebagai insan yang memiliki prinsip ideal, sudah seyogianya mahasiswa berada jauh-jauh dari rangkulan kekuasaan.
Dalam taraf ini, mahasiswa perlu menjaga jarak, namun tetap mengawasi gerak-gerik pemerintah dengan penglihatan yang supertajam. Lebih jauh lagi, bukan saatnya kini untuk ramai-ramai turun ke jalan dan berdemonstrasi. Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus memiliki konsepsi dan mengungkapkan ide-idenya dengan cara yang lebih elegan.
Melakukan diskusi, kajian, dan menulis adalah cara yang paling efektif. Kita manfaatkan kemerdekaan media massa yang ada untuk turut mengawasi pemerintah. Pemikiran yang kritis dan objektif, sudah menjadi harga mati bagi mahasiswa jika ingin melihat republik ini eksis untuk puluhan tahun ke depan.
Karena itu, marilah para mahasiswa, agent of change, kaum intelektual bangsa tuangkan pemikiran kritis kita dalam bentuk tulisan. Seperti ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa pena itu dapat lebih tajam dari pedang.
Namun sekali waktu, elang penjaga langit demokrasi ini juga dapat menukik ke bumi untuk membuat sebuah gerakan, jika memang diperlukan. Mahasiswa tak akan pernah berhenti bergerak selama bangsa ini masih memiliki cita-cita.
Dimas Prasetyo Muharam
Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
24 September 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar